Top Ad unit 728 × 90

From the Journal

Journal

Ketika AI Menjadi Kambing Hitam

 Belakangan ini, ada satu kalimat yang semakin sering terdengar. "Ah, ini AI!"



Kalimat itu kadang diucapkan sambil tersenyum, kadang bernada sinis, bahkan tidak jarang menjadi cara paling cepat untuk meremehkan sebuah karya. Sebuah tulisan dianggap tidak layak dibaca hanya karena dibantu AI. Sebuah gambar dipandang kehilangan makna hanya karena dihasilkan dengan teknologi. Seolah-olah, begitu kata "AI" muncul, nilai sebuah karya langsung berkurang.


Di sisi lain, kita juga menyaksikan kenyataan yang berbeda. Foto-foto palsu diciptakan untuk mencemarkan nama baik seseorang. Video dan suara dimanipulasi untuk membentuk opini. Informasi direkayasa agar memancing kemarahan, kebencian, bahkan perpecahan. Ketika semua itu terjadi, yang kembali disalahkan adalah AI.


Lalu saya bertanya kepada diri sendiri. Benarkah yang salah adalah AI? Ataukah kita sedang mencari sesuatu untuk dipersalahkan agar tidak perlu bercermin kepada diri sendiri?


Sesungguhnya, AI hanyalah sebuah alat. Ia tidak memiliki hati. Ia tidak memiliki kebencian. Ia tidak mengenal kasih. Ia tidak mengenal dendam. Ia tidak memiliki kehendak untuk menolong ataupun menyakiti. Ia bekerja sesuai dengan tujuan yang diberikan oleh manusia.


Pisau dapat berada di tangan seorang dokter yang menyelamatkan nyawa. Pisau yang sama dapat berada di tangan seorang pelaku kejahatan. Kita tidak pernah menyalahkan pisaunya. Kita selalu bertanya: siapa yang memegangnya dan untuk tujuan apa?


Mengapa terhadap AI kita sering lupa mengajukan pertanyaan yang sama? Teknologi tidak pernah memutuskan untuk berbohong. Manusialah yang memilih kebohongan. Teknologi tidak pernah memutuskan untuk memfitnah. Manusialah yang memilih fitnah. Teknologi tidak pernah memutuskan untuk menebar kebencian. Manusialah yang mengarahkannya ke sana.


Sebaliknya, teknologi juga dapat dipakai untuk menulis ilmu pengetahuan, menyusun penelitian, membantu pendidikan, mempermudah pelayanan kesehatan, mempercepat pekerjaan kemanusiaan, bahkan membuka kesempatan belajar bagi mereka yang sebelumnya sulit memperoleh akses terhadap pengetahuan.


Alat yang sama. Manusia yang berbeda. Karena itu, saya semakin yakin bahwa persoalan terbesar zaman ini bukanlah kecerdasan buatan. Persoalan terbesar tetaplah hati manusia.


Mungkin, tanpa kita sadari, AI justru sedang memperlihatkan siapa diri kita yang sebenarnya. Di tangan orang yang mencintai kebenaran, AI menjadi sarana untuk membangun. Di tangan orang yang mengejar kepentingan sempit, AI berubah menjadi alat untuk merusak. Teknologi hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam diri penggunanya.


Ironisnya, kita sering lebih sibuk mempertanyakan apakah sebuah tulisan dibuat dengan AI daripada mempertanyakan apakah tulisan itu benar. Kita lebih penasaran apakah sebuah gambar dihasilkan oleh mesin daripada bertanya apakah gambar itu dipakai secara jujur. Kita lebih mudah menghakimi alat daripada menilai tanggung jawab orang yang menggunakannya.


Padahal, sejak dahulu persoalan manusia tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah medianya. Dulu, fitnah ditulis di atas secarik kertas. Kemudian, fitnah disebarkan melalui surat kabar. Lalu melalui media sosial. Kini, sebagian fitnah dibuat dengan AI. Yang berubah hanyalah cara. Bukan manusianya. Karena itu, saya tetap percaya pada satu keyakinan sederhana.


Segala sesuatu diadakan dengan tujuan baik. Kesalahan terbesar, bila itu ada, adalah penggunaan yang salah.


Keyakinan ini bukan berarti menutup mata terhadap bahaya penyalahgunaan teknologi. Justru sebaliknya. Semakin besar kemampuan yang dimiliki manusia, semakin besar pula tanggung jawab moral yang menyertainya. Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, kecerdasan hanya akan mempercepat kesalahan.


Pada akhirnya, saya tidak terlalu khawatir bahwa AI akan menggantikan manusia. Yang lebih saya khawatirkan adalah ketika manusia berhenti menggunakan hati nuraninya, lalu menyerahkan tanggung jawab moral kepada teknologi yang diciptakannya sendiri. Sebab, secanggih apa pun AI berkembang, ia tetap tidak memiliki kemampuan untuk memilih antara benar dan salah. Pilihan itu akan selalu berada di tangan manusia.


"Peradaban tidak ditentukan oleh secanggih apa teknologi yang kita ciptakan, melainkan oleh sebijaksana apa kita menggunakannya."

Ketika AI Menjadi Kambing Hitam Reviewed by Fidelis Harefa on Juli 20, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by The Fidelis Harefa Journal © 2025

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.